TORAJA UTARA, DUPLIKNEWS.COM – SMK Kristen Harapan Rantepao kembali menunjukkan kelasnya sebagai SMK Pusat Keunggulan berbasis Industri 4.0. Bukan hanya melalui proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi lewat karya nyata yang lahir dari tangan guru dan murid, Selasa (1/9/2026).
Salah satu inovasi yang kini menjadi perhatian adalah mobil listrik yang dirancang, dirakit dan dikembangkan secara kolaboratif oleh guru bersama murid SMK Kristen Harapan Rantepao.
Mengusung identitas “Produk SMK Kristen Harapan Rantepao”, kendaraan tersebut menjadi gambaran bagaimana pendidikan vokasi dapat diterjemahkan langsung menjadi produk yang relevan dengan perkembangan teknologi.
Mobil listrik itu tidak lahir dari proses instan. Guru dan murid terlibat dalam berbagai tahapan, mulai dari perancangan, perakitan, pengembangan sistem kelistrikan hingga penyempurnaan kendaraan.
Proses tersebut sekaligus menjadi laboratorium pembelajaran bagi para murid. Mereka tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga belajar menghadapi persoalan teknis, mencari solusi, mengembangkan kreativitas, bekerja dalam tim, dan memastikan sebuah rancangan dapat diwujudkan menjadi produk nyata.
Kepala SMK Kristen Harapan Rantepao, Agustinus Palimbong, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa sekolah yang ingin disebut unggul harus memiliki keberanian untuk berinovasi dan menghasilkan karya.
"SMK yang unggul harus terus berinovasi dan menghasilkan produk nyata. Mobil listrik ini merupakan hasil kolaborasi guru dan murid. Kami ingin membangun budaya di sekolah bahwa pembelajaran tidak berhenti pada teori, tetapi harus menghasilkan karya yang dapat dilihat, digunakan, dan terus dikembangkan," jelasnya.
Menurut Agustinus, status sebagai SMK Pusat Keunggulan berbasis Industri 4.0 menjadi dorongan bagi sekolah untuk terus beradaptasi terhadap perubahan teknologi.
Guru dan murid didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memahami, mengembangkan, bahkan menciptakan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan zaman dan dunia industri.
Kehadiran mobil listrik ini menjadi representasi dari proses pendidikan vokasi yang menghubungkan pengetahuan, keterampilan, kreativitas dan pengalaman praktik dalam satu karya.
Di tengah tuntutan dunia kerja yang semakin membutuhkan tenaga terampil dan adaptif terhadap teknologi, model pembelajaran berbasis proyek seperti ini menjadi penting. Murid dibiasakan untuk berhadapan dengan persoalan nyata, bukan hanya menyelesaikan soal di atas kertas.
Dari bengkel sekolah, gagasan itu kemudian diterjemahkan menjadi sebuah produk.
Semangat itulah yang terus dibangun SMK Kristen Harapan Rantepao, menjadikan sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi ruang untuk menciptakan.
Dengan mengusung semangat “Kompeten dan Berkarakter”, SMK Kristen Harapan Rantepao berkomitmen melanjutkan pengembangan berbagai karya inovatif sekaligus mempersiapkan murid agar memiliki keterampilan yang mampu menjawab tantangan teknologi, dunia industri, dan dunia kerja yang terus bergerak.
Mobil listrik tersebut akhirnya bukan hanya soal kendaraan bertenaga listrik. Ia adalah pesan bahwa ketika guru dan murid berkolaborasi, ruang kelas dapat berubah menjadi ruang inovasi dan teori dapat menjelma menjadi karya nyata.
Penulis: Albert Agus
